Oleh
Triana Hertiani
Departemen Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM
Bayangkan sebuah pabrik alami di halaman rumah, berskala mikro dan menghasilkan senyawa bioaktif—berbagai jenis flavonoid, asam fenolat, antioksidan kuat, serta mikroba penghasil enzim dan antibiotik alami. Koloni lebah tak bersengat (stingless bee), makhluk mungil produktif yang tersebar dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia; bukan hanya aktif memproduksi madu, tetapi juga propolis, bee bread, dan cerumen—masing-masing kaya potensi yang unik untuk pangan dan farmasi masa depan.
Di Indonesia, lebah tak bersengat dikenal dalam banyak nama lokal: kelulut di Kalimantan, galogalo di Sumatra, klanceng atau lenceng di Jawa, dan teuweul di Jawa Barat. Nama-nama ini mencerminkan keberadaan lebah tersebut dalam budaya dan ekosistem lokal yang masih belum sepenuhnya tergali potensi ekonominya [1,4]. Lebah ini bukan hanya penjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga penggerak inovasi produk kesehatan berbasis kearifan lokal—yang sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), terutama di bidang kesehatan, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak.

Gambar 1. Struktur sarang lebah kelulut (stingless bee) menunjukkan brood cells tempat pertumbuhan larva serta pot honey dari campuran lilin dan resin (cerumen). Sumber: dokumentasi pribadi (2025)
Pot-Honey: Madu Fermentatif dengan Gula Unik
Tahukah Anda bahwa tidak semua madu itu sama? Madu dari lebah tak bersengat dikenal sebagai pot-honey—sejenis madu tropis yang lebih encer, berasa asam-manis, dan kaya hasil fermentasi alami. Uniknya, madu ini tidak disimpan dalam sel lilin heksagonal seperti pada lebah madu (Apis mellifera), melainkan dalam struktur pot kecil dari campuran lilin dan resin yang disebut cerumen [1]. Madu lebah tanpa sengat umumnya mengandung lebih banyak air, memiliki aktivitas air, kadar mineral (abu), dan tingkat keasaman bebas yang lebih tinggi. Sebaliknya, kandungan gula dan senyawa HMF-nya lebih rendah. pH dan jumlah padatan terlarutnya juga sedikit lebih rendah [2]
Salah satu ciri khas pot-honey adalah keberadaan trehalulose, gula disakarida unik yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dengan ikatan α-1,1. Meski mirip sukrosa dalam komposisi, struktur ikatan ini menyebabkan indeks glikemiknya jauh lebih rendah, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah dan bahkan memiliki potensi sebagai gula fungsional bagi penderita diabetes [1,3]. Konsentrasi trehalulose dalam pot-honey dapat bervariasi tergantung pada spesies lebah, sumber nektar, dan kondisi fermentasi alami dalam sarang [3]. Oleh karena itu, karakteristik ini perlu dianalisis secara spesifik untuk setiap asal geografis dan koloni.
Lebih dari sekadar manis alami, pot-honey adalah madu fermentatif. Mikroorganisme alami di dalam sarang berperan menghasilkan asam organik seperti asam glukonat, laktat, dan asetat. Selain menambah kompleksitas rasa, senyawa ini juga berfungsi sebagai pengawet alami dan antimikroba ringan, menjadikan madu ini stabil dan berpotensi digunakan dalam produk pangan dan kesehatan [1,3].
Bagaimana sesendok kecil madu bisa menjadi sumber antioksidan alami dan mendukung sistem imun tubuh?
Pot-honey mengandung berbagai komponen antioksidan, antara lain flavonoid, asam fenolat, asam askorbat (vitamin C), dan tokoferol (vitamin E)—semuanya dikenal memiliki aktivitas penangkal radikal bebas [1,3]. Uniknya, kandungan total fenolik dalam pot-honey dari lebah tak bersengat dilaporkan lebih tinggi dibanding madu dari lebah Apis mellifera (lebah bersengat), terutama yang dihasilkan di wilayah tropis [3].
Hasil pengujian aktivitas seperti DPPH dan FRAP mengindikasikan bahwa pot-honey dari lebah tak bersengat memiliki kemampuan antioksidan yang relatif lebih tinggi dibandingkan madu konvensional. Hal ini mendukung potensi fungsionalnya yang tinggi dan unik dalam menangkal penuaan dini, peradangan, dan kerusakan sel oleh radikal bebas [3].
Mikroba dalam Sarang: Kolaborator Tak Terlihat
Komunitas mikroba yang hidup di dalam sarang lebah tak bersengat (stingless bee) menjalani hubungan simbiosis kompleks dengan koloni lebah. Mereka tidak hanya menjaga kesehatan koloni, tetapi juga berkontribusi pada transformasi biokimia produk sarang, seperti madu, bee bread, dan cerumen [4].
Studi Ngalimat et al. (2020) mengidentifikasi mikroba dominan seperti Lactic Acid Bacteria (LAB), termasuk fructophilic LAB (FLAB), yang mampu bertahan dan berfungsi di lingkungan kaya fruktosa seperti pot-honey. Beberapa mikroba seperti Bacillus dan Streptomyces turut menghasilkan enzim penting, mulai dari protease hingga glukosa oksidase. Enzim yang disebut terakhir ini berperan mengubah glukosa menjadi asam glukonat, yang memberikan rasa asam khas pada madu kelulut serta membantu menjaga kestabilannya secara alami dalam produk pangan dan farmasi [3].
Fungsi mikroba tidak berhenti pada produksi enzim tetapi juga mengontrol fermentasi alami dalam sarang; menstabilkan pH lingkungan; memecah resin kompleks yang dikumpulkan lebah dari tanaman tropis; menghasilkan senyawa antimikroba alami, yang menjaga kebersihan sarang dan mencegah kontaminasi [2,4]. Mikroorganisme juga ditemukan dalam saluran pencernaan lebah dan terbawa ke produk seperti bee bread dan madu. Mikroba tersebut membentuk ekosistem mikrobioma yang mendukung proses fermentasi alami di dalam sarang, menjadikannya seperti bioreaktor tropis berukuran mini [2,4].
Bee Bread: “Roti” Bergizi dari Polen Fermentasi
Tak hanya madu, lebah tak bersengat juga menciptakan superfood alami: bee bread—produk fermentasi polen yang kaya gizi dan potensi bioaktif. Lebah pekerja mencampur polen dengan enzim dari air liur dan sejumlah kecil madu, lalu menyimpannya dalam pot sarang. Di sinilah fermentasi berlangsung secara alami oleh mikroba yang hidup di lingkungan koloni [2,3]. Produk akhir ini mengandung nutrisi padat, termasuk asam amino penting untuk sintesis protein, berbagai vitamin B (seperti B1, B2, B6, dan folat), serta enzim dan senyawa bioaktif lain yang terbentuk dari fermentasi. [2,3].
Fermentasi membantu menguraikan dinding polen yang keras, sekaligus memicu pembentukan senyawa bioaktif baru hasil metabolisme mikroba—sehingga nutrisi lebih mudah diserap tubuh [3,4]. Studi juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan imunomodulator dari bee bread, menjadikannya kandidat menarik untuk suplemen kesehatan alami.
Propolis: Pelindung Alami Berbasis Resin
Selain madu dan bee bread, lebah tak bersengat juga memproduksi propolis—zat resin lengket berwarna coklat tua yang dikumpulkan dari tunas atau getah pohon. Lebah mencampurkannya dengan enzim saliva untuk membentuk senyawa pelindung yang berfungsi sebagai “antibiotik sarang”.
Propolis lebah tak bersengat cenderung memiliki komposisi kimia yang berbeda dari propolis Apis, karena sumber resin tumbuhan tropis yang lebih beragam. Kandungan seperti flavonoid, asam fenolat, dan terpenoid telah dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan—dari melawan mikroba hingga potensi sebagai antioksidan dan antikanker. [3].
Di dalam sarang, propolis tak hanya digunakan untuk menutup celah, tapi juga menjaga kebersihan dan keseimbangan mikroba agar lingkungan tetap steril dan sehat.Potensi propolis ini membuatnya banyak diteliti sebagai bahan baku sediaan farmasi topikal, larutan kumur, dan imunostimulan alami.
Cerumen: Tidak Sekedar Lilin
Jika madu berasal dari nektar tumbuhan yang diolah lebah melalui enzim dan fermentasi mikroba dan propolis berfungsi sebagai pelindung alami antimikroba, maka cerumen adalah bahan struktural utama sarang, tempat penyimpanan madu dan bee bread [2]. Campurannya terdiri dari lilin yang diproduksi lebah dan resin tanaman yang mereka kumpulkan di alam.. Komposisi kimianya mencakup alkohol rantai panjang; ester lilin alami dan senyawa terpenoid aktif
Tak sekadar sebagai pelindung fisik, cerumen memiliki aktivitas antimikroba alami dan membantu menjaga suhu serta kelembapan internal sarang. Sifat antimikroba dan kestabilannya membuka peluang pemanfaatan cerumen sebagai bahan dasar inovatif dalam formulasi sediaan topikal, seperti plester atau pembalut alami. [3].
Merawat Harmoni Alam, Mendukung Kesehatan dan Keberlanjutan
Lebah tak bersengat adalah miniatur harmoni alami—menggabungkan kekuatan alam dari tumbuhan (melalui resin, nektar, dan polen); serangga (melalui perilaku metabolik dan sosial) dan mikroba (melalui fermentasi dan proteksi). Dari madu, propolis, bee bread, cerumen hingga larva—semuanya adalah hasil kolaborasi biologis yang tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga menjanjikan bagi inovasi pangan dan kesehatan.
Namun tantangan besar tetap terbentang antara lain belum ada standar mutu internasional untuk produk lebah tak bersengat. Bahkan pot-honey belum diakui sebagai madu resmi dalam Codex Alimentarius, terutama karena kadar airnya yang tinggi—meskipun secara nutrisi dan bioaktivitas, pot-honey menawarkan keunggulan yang signifikan [1].
Sudah waktunya dunia melihat lebah tak bersengat bukan hanya sebagai penghasil madu alternatif, tetapi sebagai sumber daya bioaktif masa depan. Pengembangan dan pemanfaatannya secara bijak dapat berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), khususnya dalam mendukung ketahanan pangan (SDG 2), kesehatan masyarakat (SDG 3), dan konservasi keanekaragaman hayati tropis (SDG 15).
Bagaimana menurut Anda?
Daftar Bacaan
- Vit, P., Chuttong, B., Ramírez-Arriaga, E., Enríquez, E., Wang, Z., Cervancia, C., Vossler, , Kimoloi, S., Engel, M.S., Contreras, R.R., Mduda, C.A. & Tomás-Barberán, F. 2025, Stingless bee honey: Nutraceutical properties and urgent call for proposed global standards, Trends in Food Science & Technology, Volume 157, 104844, https://doi.org/10.1016/j.tifs.2024.104844
- Alves, F., Chaul, L.T., Bueno, G.C.A., Reinecke, I., Silva, T.C.G., Brito, P.V.A., & De Martinis, E.C.P., 2024. Associated bacterial microbiota of honey and related products from stingless bees as novel sources of bioactive compounds for biotechnological applications, Current Opinion in Food Science, Volume 55, https://doi.org/10.1016/j.cofs.2023.101122
- Rozman, S., Hashim, N., Maringgal, B., & Abdan, K. (2022). A Comprehensive Review of Stingless Bee Products: Phytochemical Composition and Beneficial Properties of Honey, Propolis, and Pollen. Applied Sciences, 12(13), 6370. https://doi.org/10.3390/app12136370
- Ngalimat, S., Abd Rahman, R.N.Z.R., Yusof, M.T., Hamzah, A.S.A., Zawawi, N., & Sabri, S. (2020). A Review on the Association of Bacteria with Stingless Bees. Sains Malaysiana, 49(8), 1853–1863. https://doi.org/10.17576/jsm-2020-4908-08