Penulis: Farida Nur Aziza, Fidela Wulan Pradibha, Shofia Aqila Mailani
Mahasiswa Program Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi UGM.
Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi berbasis bahan alam melalui riset hilirisasi formulasi sediaan losion dari ekstrak air jamur tiram (Pleurotus ostreatus (Jacq.: Fr) Kummer) sebagai alternatif terapi dermatitis atopik. Penelitian ini bekerja sama dengan mitra industri, CV. Herbal Indo Utama (HIU) Group, untuk mengarahkan prototipe losion ini menuju skala produksi yang dapat dinikmati masyarakat luas. Inovasi ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan intervensi kesehatan yang lebih alami serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan mendorong hilirisasi riset berbasis sumber daya lokal.
Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai dengan kulit kering, gatal, kemerahan, serta gangguan fungsi skin barrier. Selain menimbulkan keluhan pada kulit, penyakit ini berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien, termasuk gangguan tidur, stres psikologis, beban ekonomi, dan stigma sosial. Dermatitis atopik termasuk salah satu gangguan kulit yang paling umum pada anak-anak, tetapi juga dapat menetap atau muncul pertama kali pada usia dewasa sehingga sering membutuhkan terapi jangka panjang. Penggunaan kortikosteroid topikal sebagai terapi utama dalam jangka waktu lama berpotensi menimbulkan efek samping sehingga mendorong perlunya pengembangan alternatif terapi yang lebih aman, terutama yang berbasis bahan alam.

Gambar 1. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus (Jacq.: Fr)
Jamur tiram (Gambar 1) merupakan anggota divisi Basidiomycota dari famili Tricholomataceae dan dikenal sebagai salah satu komoditas jamur yang paling banyak dibudidayakan serta dikonsumsi secara global. Di Indonesia, jamur tiram mudah diperoleh dan dibudidayakan, menjadikannya sumber daya hayati yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Hingga saat ini, jamur tiram lebih banyak dimanfaatkan dalam bidang pangan, sementara pemanfaatannya dalam sediaan kosmetik topikal masih terbatas. Padahal, jamur ini kaya akan komponen bioaktif β-glukan yang manfaatnya sudah banyak diteliti dan diaplikasikan dalam penatalaksanaan dermatitis atopik. Menurut penelitian, senyawa β-glukan memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, mendukung proses penyembuhan luka, serta berperan penting dalam memperbaiki fungsi skin barrier. Selain itu, β-glukan juga memiliki efek pelembab yang signifikan dengan membentuk lapisan pelindung sehingga mampu mencegah kehilangan air dan mempertahankan hidrasi kulit. Dalam pengobatan dermatitis atopik, sediaan topikal yang mengandung β-glukan terbukti mampu mengurangi gejala dan memperpendek intensitas kekambuhan dengan toleransi yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan kandungan bioaktif β-glukan dalam ekstrak air jamur tiram sebagai bahan aktif pada sediaan losion untuk alternatif terapi dermatitis atopik.
Pada penelitian ini, ekstrak air jamur tiram diformulasikan ke dalam sediaan topikal yang nyaman digunakan dan sesuai untuk kulit sensitif. Dalam pelaksanaanya, penelitian ini tidak hanya berfokus pada pembuatan ekstrak, tetapi juga mencakup tahap formulasi dan evaluasi sediaan. Tim peneliti melakukan perbaikan komposisi formula untuk memperoleh losion dengan karakteristik fisik yang baik, meliputi pH yang sesuai dengan kulit, viskositas yang nyaman, daya lekat yang optimal, serta stabilitas selama penyimpanan. Seluruh tahapan ini penting untuk memastikan bahwa sediaan yang dihasilkan tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan nyaman digunakan dalam jangka waktu tertentu. Prototipe losion jamur tiram yang dihasilkan bersmaa dengan mitra diahrapkan menjadi produk yang aman, stabil, dan efektif untuk membantu meredakan gejala dermatitis atopik yang selanjutnya dapat dilakukan pengujian pada manusia dan menjadi solusi terapi baru yang lebih alami, lokal, dan terjangkau, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu dan industri farmasi di Indonesia.