Universitas Gadjah Mada Kanal Pengetahuan Farmasi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Contact
  • Home
  • Berita Farmasi

Kaki Terasa Sakit Saat Berjalan: Bisa Jadi Tanda Penyakit Arteri Perifer

  • Berita Farmasi, Pusat Informasi Obat dan Farmakologi
  • 10 July 2025, 14.14
  • By : Admin

Oleh
Firdhani Satia Primasari
Dosen Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada

      Pernahkah anda atau orang di sekitar anda merasakan sakit ketika berjalan atau kaki mudah kram? Sebagian besar orang yang mengalami keluhan tersebut akan menganggapnya sebagi hal yang wajar terutama jika yang mengalami adalah orang tua karena dianggap sebagai akibat dari bertambahnya usia. Namun, tahukah anda jika keluhan yang dianggap ringan oleh sebagian besar masyarakat ini bisa jadi merupakan gejala dari penyakit arteri perifer?

      Peripheral Artery Disease (PAD) atau penyakit arteri perifer adalah kondisi kronis di mana pembuluh darah arteri tersumbat atau mengalami penyempitan yang berakibat pada terganggunya aliran darah dari jantung ke anggota tubuh lainnya [1]. Penyakit ini dapat terjadi akibat adanya penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah atau adanya penggumpalan pada pembuluh darah yang kemudian dapat mengakibatkan adanya perubahan struktur dan fungsi normal pembuluh darah arteri. PAD dapat terjadi di anggota gerak tubuh bagian atas dan bawah, tetapi lebih sering terjadi di kaki daripada lengan. Jumlah penderita penyakit arteri perifer di dunia cukuplah tinggi. Data dari American Heart Association menunjukkan kurang lebih terdapat 8-12,5 juta penduduk Amerika yang mengalaminya [2]. Sementara data penderita di Indonesia belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan dengan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kebersihan dan kesehatan yang secara umum belum begitu baik, dapat diprediksikan jika jumlah penderita penyakit ini cukup tinggi.

     Adanya keterlambatan dalam melakukan deteksi awal PAD menyebabkan pasien datang sudah dalam kondisi yang sulit diobati dan meningkatkan angka amputasi dan kematian akibat penyakit ini [1]. Terdapat beberapa faktor risiko penyebab terjadi PAD, di antaranya adalah usia ³65 tahun, kebiasaan merokok, penyakit hipertensi, dislipidemia, diabetes melitus, kurangnya aktivitas fisik, stres, diet tinggi lemak tersaturasi, obesitas, gagal ginjal kronis, dan masih banyak faktor risiko lain yang masih terus diselidiki [1–3]. Kebiasaan merokok dan diabetes melitus dikaitkan dengan risiko tinggi dalam menyebabkan PAD pada anggota gerak bagian bawah [4]. Sebagian penderita PAD tidak menunjukkan adanya gejala yang dirasakan. Namun, umumnya tanda dan gejala yang muncul ketika seseorang menderita PAD, antara lain rasa sakit pada kaki saat berjalan yang kemudian hilang saat istirahat beberapa menit, kelemahan atau mati rasa pada kaki, adanya luka pada kaki atau jari kaki yang sulit sembuh, kaki terasa dingin, pertumbuhan kuku kaki yang lambat, adanya perubahan warna kaki, dan pada laki-laki dapat mengalami disfungsi ereksi. Deteksi awal sangat diperlukan ketika seseorang mengalami keluhan tersebut dikarenakan PAD berisiko meningkatkan kejadian komplikasi lainnya yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah. Jika tidak tertangani dengan baik, organ penting, lengan, atau kaki yang tidak mendapatkan cukup suplai darah dapat menyebabkan infeksi atau kematian jaringan yang bisa berakibat pada dilakukannya amputasi pada bagian tersebut.

     Lalu bagaimana terapi pada pasien yang mengalami penyakit ini? Tata laksana untuk penyakit ini dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pemberian terapi non farmakologi (terapi non obat) dan terapi farmakologi (terapi obat). Bagi pasien yang memiliki kebiasaan merokok, menghentikan kebiasaan tersebut merupakan terapi non obat utama yang harus dilakukan. Tidak hanya menghentikan kebiasaan merokok, menghindari terkenan paparan asap rokok juga sangat direkomendasikan. Selain itu, pasien dapat melakukan diet sehat, serta melakukan aktivitas fisik ringan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi tubuh. Sementara terapi obat yang umumnya diberikan adalah pemberian obat golongan statin dan antiplatelet. Penurunan kadar low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) dengan pemberian obat golongan statin, seperti atorvastatin, diketahui mampu menurunkan kejadian kardiovaskuler. Sedangkan antiplatelet atau pengencer darah, seperti aspirin dan klopidogrel, diberikan untuk mencegah terjadinya penggumpalan atau penyumbatan pembuluh darah. Pemberiannya dapat diberikan pada pasien PAD dengan gejala yang mana dapat menurunkan risiko terjadinya komplikasi kardiovaskuler. Selain terapi yang sudah disebutkan, melakukan kontrol tekanan darah dan kadar gula darah juga penting terutama pada pasien yang juga menderita hipertensi atau diabetes melitus. Berdasarkan panduan tata laksana PAD yang dikeluarkan oleh American Heart Association di tahun 2024, target tekanan darah yang diharapkan adalah <130 mmHg untuk tekanan sistolik dan <80mmHg untuk tekanan diastolik.

     Jika penderita PAD tidak menunjukkan adanya perbaikan setelah menjalankan terapi non obat dan obat, dapat dipertimbangkan untuk dilakukannya tindakan pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki aliran darah ke organ yang mengalami kekurangan pasokan darah. Adapun keputusan untuk dilakukannya tindakan tersebut harus didasarkan pada penilaian risiko dan benefitnya, jika manfaat yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan risikonya, maka tindakan tersebut dapat dilakukan [2]. Selain itu, jika terdapat luka atau infeksi, maka manajemen penanganan terhadap luka dan infeksi yang diderita pasien penting dilakukan. Pemeliharaan kaki juga menjadi aspek penting yang dapat dilakukan pada upaya pencegahan dan pengobatan PAD anggota gerak tubuh bagian bawah.

     Selain hal-hal yang sudah dijelaskan di atas, amputasi bisa menjadi salah satu tindakan dalam penanganan PAD. Studi menunjukkan jika 51-93% amputasi tungkai bawah diakibatkan oleh PAD. Selain itu, tingkat mortalitas akibat penyakit ini juga diketahui cukup tinggi [5]. Oleh karenanya, jangan anggap remeh setiap keluhan kesehatan yang anda rasakan. Jika anda merasakan keluhan yang mirip dengan tanda gejala PAD dan memiliki faktor risiko, pastikan untuk segera memeriksakan diri ke dokter supaya dapat terdiagnosis lebih awal dan mendapatkan penanganan yang tepat. Bagi pasien PAD yang sedang menjalani terapi, pastikan anda patuh terhadap pengobatannya karena keberhasilan terapi dapat tercapai salah satunya karena adanya kepatuhan dari pasien.

Pustaka:

[1]PERKI – Indonesian Heart Association [Internet]. [cited 2025 May 28]. Available from: https://www.inaheart.org/guidelines/panduan-tatalaksana-penyakit-arteri-perifer

[2]Gornik HL, Aronow HD, Goodney PP, Arya S, Brewster LP, Byrd L, et al. 2024 ACC/AHA/AACVPR/APMA/ABC/SCAI/SVM/SVN/SVS/SIR/VESS Guideline for the Management of Lower Extremity Peripheral Artery Disease. J Am Coll Cardiol. 2024 Jun;83(24):2497–604.

[3]CDC. Heart Disease. 2024 [cited 2025 May 28]. About Peripheral Arterial Disease (PAD). Available from: https://www.cdc.gov/heart-disease/about/peripheral-arterial-disease.html

[4]Hennion DR, Siano KA. Diagnosis and Treatment of Peripheral Arterial Disease. Am Fam Physician. 2013 Sep 1;88(5):306–10.

[5]Abry L, Weiss S, Makaloski V, Haynes AG, Schmidli J, Wyss TR. Peripheral Artery Disease Leading to Major Amputation: Trends in Revascularization and Mortality Over 18 Years. Ann Vasc Surg. 2022 Jan 1;78:295–301.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Cost Effectiveness Analysis of Platinum dan Non platinum Based Chemot

3 Minutes Presentation3MP Prodi Magister Farmasi Klinik.Kemoprevensi dan Antikanker Saturday, 20 June 2026

Triple-negative breast cancer (TNBC) memiliki pilihan kemoterapi terbatas akibat ketiadaan reseptor esterogen, progesteron, dan HER2.

Kaempferia parviflora yang banyak manfaat

Obat Alami untuk IndonesiaPusat Informasi Obat dan Farmakologi Thursday, 23 April 2026

Oleh
Ika Trisharyanti Dian Kusumowati
Mahasiswa Program Doktor Fakultas Farmasi UGM

 

    Kaempferia parviflora Wall.

Kencur : Warisan Indonesia untuk Kesehatan

Obat Alami untuk Indonesia Friday, 17 April 2026

Oleh
apt., Pramudita Riwanti, M.Farm
Mahasiswa Program Doktorat, Fakultas Farmasi UGM

      Kencur (Kaempferia galanga) yang masuk ke dalam family Zingiberacae sering digunakan sebagai bumbu dapur atau untuk membuat jamu tradisional seperti beras kencur.

Kulit Cerah Tanpa Skincare Mahal ? Coba Manfaat Rosella di Rumah!”

Obat Alami untuk IndonesiaPharmabeauty Wednesday, 15 April 2026

Oleh
Dyah Susilowati
Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi UGM

Gambar: Ilustrasi perawatan wajah dengan bunga rosella (sumber gambar: Canva)

Mengapa Kulit Cerah dan Sehat Jadi Idaman?

      Kulit glowing menjadi dambaan banyak wanita di seluruh dunia karena melambangkan kesehatan, perawatan diri, dan kecantikan alami, serta berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kenyamanan dalam kehidupan sosial [1] Oleh karena itu, perawatan kulit tidak hanya tentang kecantikan, tetapi juga tentang kualitas hidup dan keseimbangan tubuh serta pikiran.

Terkini

  • Cost Effectiveness Analysis of Platinum dan Non platinum Based Chemot
  • Kaempferia parviflora yang banyak manfaat
  • Kencur : Warisan Indonesia untuk Kesehatan
  • Kulit Cerah Tanpa Skincare Mahal ? Coba Manfaat Rosella di Rumah!”
  • Losion Jamur Tiram sebagai Terapi Inovatif Dermatitis Atopik
Universitas Gadjah Mada

Kanal Pengetahuan

Fakultas Farmasi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Utara, Yogyakarta 55281

email: kpf.farmasi@ugm.ac.id

© Kanal Pengetahuan Farmasi - Universitas Gajah Mada