Universitas Gadjah Mada Kanal Pengetahuan Farmasi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Contact
  • Home
  • Obat Alami untuk Indonesia

Konjac (Lidah setan), tumbuhan berbau bangkai yang dapat dimakan.

  • Obat Alami untuk Indonesia
  • 19 September 2023, 14.01
  • By : Admin

Disebut sebagai lidah setan, karena tumbuhan ini berbau sangat busuk serupa bangkai mayat saat mekar berbunga. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama Konjac, Voodoo lily, snake palm, atau elephant yam, dengan nama ilmiah Amorphophallus konjac, merupakan tumbuhan eksotis tahunan yang termasuk dalam keluarga Araceae. Tumbuhan ini berasal dari Asia Tenggara, khususnya Jepang, Cina, dan Indonesia. Konjac (lidah setan) memiliki umbi bawah tanah yang besar yang dapat tumbuh hingga beberapa kilogram beratnya. Tumbuhan itu sendiri terdiri dari satu tangkai bunga tinggi yang muncul dari tanah, dihiasi dengan satu daun besar.

Gambar 1. Tumbuhan Konjac. Sumber: https://www.uzh.ch/blog/bg/teufelszunge-amorphophallus-konjac-eine-stinkpflanze-die-man-essen-kann/

Konjac (lidah setan) merupakan tumbuhan herba, berbentuk batang, dengan siklus hidup abadi (perennial) dan banyak ditemukan di pinggiran hutan dan belukar di Cina. Umbi tumbuhan berwarna dan dapat dimakan (bobo-tuber), namun kandungan kalsium oksalat dapat membuat umbi ini beracun jika dikonsumsi mentah. Kristal kalsium oksalat jika dimakan akan membuat mulut, lidah dan tenggorokan terasa seperti ditusuk jarum kecil. Kalsium oksalat dipecah dengan memasak tumbuhan secara menyeluruh atau dengan mengeringkannya sepenuhnya, menjadikannya aman untuk dimakan.

Tumbuhan ini banyak dibudidayakan di Jepang dan Cina sebagai sumber makanan dan sebagai tumbuhan hias. Bunga mencolok besar berwarna ungu kemerahan atau Burgundy dan muncul di musim semi. Tumbuhan menghasilkan satu daun besar dari umbi dan satu batang berbunga setiap tahun. Saat matang untuk penyerbukan, bunganya mengeluarkan bau daging busuk yang menarik lalat bangkai dan pengusir hama. Baunya hilang setelah bunga diserbuki.

Dalam kegunaan ethnobotani, tumbuhan Konjac di Asia tropis dan subtropis, tumbuhan dari genus Amorphophallus memiliki sejarah panjang sebagai sumber makanan, tetapi juga dalam pengobatan tradisional Tiongkok. A. konjac ditanam di Asia Timur pada urutan pertama untuk umbi yang dapat dimakan. Ini juga dibudidayakan di Filipina karena memiliki kandungan protein yang tinggi. Di Jepang, lidah setan ditanam sebagai makanan. Mereka adalah produsen A. konjac terbesar kedua setelah China. Lidah setan juga semakin banyak diproduksi untuk industri farmasi.

Di Jepang, umbi konjac dikenal sebagai sumber Konnyaku, sejenis tepung yang digunakan dalam banyak produk diet, dan agar-agar. Biasanya umbi konjac dikeringkan dan digiling menjadi tepung dan digunakan dalam mie (shirataki) dan tahu. Umbi Konjac mengandung banyak glukomanan (polisakarida) yang larut dalam air dan mampu menahan air dalam jumlah besar. Karena menyerap begitu banyak air, larutan kental ini dapat menimbulkan rasa kenyang dengan menunda penyerapan nutrisi dari makanan sehingga nafsu makan berkurang. Dengan demikian, glukomanan yang terkandung dalam Konjac dimanfaatkan dalam pengobatan obesitas. Karena kemampuannya menyerap air dalam jumlah besar, konjac glukomanan sering digunakan sebagai bahan pengental dan pembentuk gel di berbagai produk makanan, termasuk mie, permen jeli, dan suplemen makanan. Mie konjac, juga disebut mie shirataki, berwarna bening dan memiliki tekstur seperti agar-agar. Glukomanan dari Amorphophallus konjac juga memiliki efek antioksidan. Efek ini dianggap terkait dengan fermentasinya di sekum dan usus besar. Antioksidan melindungi dari radikal bebas.

Gambar 2. A. Beras Konjac (konyaku), B. Butiran beras Konjac, C. Beras Konjac setelah dimasak menjadi nasi. Sumber: dokumen pribadi.

Gambar 3. A. Mie kering Konjac (mie shirataki), B. Mie shirataki setelah dimasak. Sumber: sehatq.com

Konjac telah mendapatkan popularitas sebagai bahan rendah kalori dan rendah karbohidrat karena kandungan seratnya yang tinggi dan kalori yang minimal. Glucomannan, serat larut yang berasal dari Amorphophallus konjac, larut dalam air dan membengkak di usus, menyebabkan perut terasa lebih kenyang, menekan nafsu makan, dan memperlambat proses penyerapan usus. Serat glukomanan dapat mengurangi kadar kolesterol total dan lipoprotein densitas rendah dengan meningkatkan ekskresi kolesterol dan asam empedu melalui tinja dan mengurangi penyerapan kolesterol usus.

Selain dimanfaatkan dalam kuliner, sejak jaman nenek moyang konjac juga telah digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional, termasuk efek penurun kolesterol, untuk mengobati asma, luka bakar, nyeri dada, dan kelainan kulit. Saat dihancurkan, umbinya digunakan untuk mengobati gigitan ular dan hewan pengerat. Gel konjac juga digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk detoksifikasi, menekan tumor dan mengurangi kekentalan darah. Studi ilmiah juga menyelidiki manfaat konjak glukomanan dalam kosmetik, antara lain penggunaan serta umbi konjac sebagai spons untuk  melembabkan dan membersihkan pori-pori kulit. Selain itu dalam aplikasi medis, akibat kapasitas retensi airnya yang tinggi, serat konjac juga dimanfaatkan sebagai agen pengental dan pengganti gelatin, dan sebagai bahan baku popok sekali pakai dan pembalut wanita.

Terlepas dari manfaat Konjac sebagai bahan makanan rendah kalori dan karbohidrat yang sangat baik dimanfaatkan dalam program penurunan berat badan dan diet pada penderita diabetes, Konjac juga mungkin berbahaya dikonsumsi oleh beberapa orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Konjac mengandung karbohidrat rantai pendek yang disebut FODMAPs. FODMAP merupakan singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, dan polyol. FODMAP adalah sekumpulan karbohidrat rantai pendek yang diserap di usus kecil yang kemudian difermentasikan oleh bakteri.

Meskipun karbohidrat yang dapat difermentasi dalam konjac memiliki manfaat kesehatan, beberapa orang mungkin tidak dapat mencernanya. Karbohidrat ini difermentasi di usus dan menyebabkan masalah pencernaan seperti gas, sakit perut, dan kram. Orang dengan sindrom iritasi usus besar (Irrtibale Bowel Syndrom, IBS) dan penyakit radang usus disarankan untuk menghindari makan konjac dan makanan kaya FODMAP. FODMAP dapat memicu bertambahnya cairan pada usus halus, yang memicu terjadinya kembung, dan perubahan konsistensi pada tinja yang menyebabkan diare. Makanan tinggi FODMAP juga menyebabkan penumpukan gas metan dan hidrogen di saluran pencernaan yang menyebabkan perut kembung dan kram perut. Selain itu asupan glukomanan dalam jumlah berlebih dapat mencegah penyerapan nutrisi yang menyebabkan malnutrisi.

Ada baiknya berkonsultasi pada ahli gizi atau dokter terlebih dahulu jika berencana rutin menkonsumsi beras konjac untuk penurunan berat badan atau diet bagi penderita diabetes.

Daftar Pustaka:

Blog – Botanischer Garten der Universität Zürich, Teufelszunge (Amorphophallus konjac) – Eine Stinkpflanze, Die Man Essen Kann, 2023. Tersedia online: https://www.uzh.ch/blog/bg/teufelszunge-amorphophallus-konjac-eine-stinkpflanze-die-man-essen-kann/, Tanggal akses 16 Juni 2023.

Chua M, Baldwin TC, Hocking TJ, Chan K. Traditional uses and potential health benefits of Amorphophallus konjac K. Koch ex N.E.Br. J Ethnopharmacol. 2010 March;128(2): 268-278.

Huang CY, Zhang MY, Peng SS, Hong JR, Wang X, Jiang HJ, Zhang FL, Bai YX, Liang JZ, Yu YR, et al. Effect of Konjac food on blood glucose level in patients with diabetes. Biomed Environ Sci. 1990 Jun;3(2):123-31. PMID: 1966003.

International Plant Names Index and World Checklist of Vascular Plants. Amorphophallus konjacK.Koch.2023.Tersediaonline:https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:84377-1, tanggal akses: 16 Juni 2023.

Vuksan V, Sievenpiper JL, Xu Z, Wong EY, Jenkins AL, Beljan-Zdravkovic U, Leiter LA, Josse RG, Stavro MP. Konjac-Mannan and American ginsing: emerging alternative therapies for type 2 diabetes mellitus. J Am Coll Nutr. 2001 Oct;20(5 Suppl):370S-380S; discussion 381S-383S. doi: 10.1080/07315724.2001.10719170. PMID: 11603646.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Cost Effectiveness Analysis of Platinum dan Non platinum Based Chemot

3 Minutes Presentation3MP Prodi Magister Farmasi Klinik.Kemoprevensi dan Antikanker Saturday, 20 June 2026

Triple-negative breast cancer (TNBC) memiliki pilihan kemoterapi terbatas akibat ketiadaan reseptor esterogen, progesteron, dan HER2.

Kaempferia parviflora yang banyak manfaat

Obat Alami untuk IndonesiaPusat Informasi Obat dan Farmakologi Thursday, 23 April 2026

Oleh
Ika Trisharyanti Dian Kusumowati
Mahasiswa Program Doktor Fakultas Farmasi UGM

 

    Kaempferia parviflora Wall.

Kencur : Warisan Indonesia untuk Kesehatan

Obat Alami untuk Indonesia Friday, 17 April 2026

Oleh
apt., Pramudita Riwanti, M.Farm
Mahasiswa Program Doktorat, Fakultas Farmasi UGM

      Kencur (Kaempferia galanga) yang masuk ke dalam family Zingiberacae sering digunakan sebagai bumbu dapur atau untuk membuat jamu tradisional seperti beras kencur.

Kulit Cerah Tanpa Skincare Mahal ? Coba Manfaat Rosella di Rumah!”

Obat Alami untuk IndonesiaPharmabeauty Wednesday, 15 April 2026

Oleh
Dyah Susilowati
Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi UGM

Gambar: Ilustrasi perawatan wajah dengan bunga rosella (sumber gambar: Canva)

Mengapa Kulit Cerah dan Sehat Jadi Idaman?

      Kulit glowing menjadi dambaan banyak wanita di seluruh dunia karena melambangkan kesehatan, perawatan diri, dan kecantikan alami, serta berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kenyamanan dalam kehidupan sosial [1] Oleh karena itu, perawatan kulit tidak hanya tentang kecantikan, tetapi juga tentang kualitas hidup dan keseimbangan tubuh serta pikiran.

Terkini

  • Cost Effectiveness Analysis of Platinum dan Non platinum Based Chemot
  • Kaempferia parviflora yang banyak manfaat
  • Kencur : Warisan Indonesia untuk Kesehatan
  • Kulit Cerah Tanpa Skincare Mahal ? Coba Manfaat Rosella di Rumah!”
  • Losion Jamur Tiram sebagai Terapi Inovatif Dermatitis Atopik
Universitas Gadjah Mada

Kanal Pengetahuan

Fakultas Farmasi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Utara, Yogyakarta 55281

email: kpf.farmasi@ugm.ac.id

© Kanal Pengetahuan Farmasi - Universitas Gajah Mada